Rabu, 12 Desember 2018

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Selamat datang di blog kuring :)
Happy Reading, Semoga bermanfaat...

Lifting Minyak dan Gas Bumi Indonesia yang kian menurun dalam APBN kita


Asumsi Dasar Ekonomi Makro (ADEM) merupakan instrumen awal yang digunakan sebagai basis perhitungan dalam penyusunan postur APBN. Perubahan pada setiap variabel asumsi dasar ekonomi makro dari yang semula ditetapkan, akan memengaruhi besaran pendapatan negara, belanja negara, defisit anggaran, dan pembiayaan anggaran yang bermuara pada perubahan besaran defisit APBN. Dampak dari perubahan asumsi dasar ekonomi makro terhadap postur APBN tahun 2018 dapat ditransmisikan dalam bentuk analisis sensitivitas. Beberapa variabel asumsi dasar ekonomi makro yang akan berdampak positif terhadap postur APBN tahun 2018 adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, ICP, serta kenaikan lifting minyak dan gas bumi. Peningkatan pada asumsi dasar ekonomi makro tersebut akan berdampak langsung pada kenaikan  pendapatan negara, terutama pada penerimaan perpajakan dan PNBP, dan berdampak tidak langsung terhadap kenaikan anggaran transfer ke daerah dan dana desa, terutama Dana Alokasi Umum (DAU) dan dana bagi hasil (DBH).


Perkembangan kondisi perekonomian menyebabkan asumsi dasar ekonomi makro terus berubah. Untuk menangkap perubahan asumsi dasar ekonomi makro yang terjadi, maka angka sensitivitas APBN tahun 2018 digunakan untuk melakukan perhitungan cepat postur APBN yang ditujukan untuk memberikan gambaran atas arah besaran defisit APBN tahun 2018. Namun demikian, postur APBN yang sesungguhnya belum bisa berpatokan pada hasil perhitungan angka sensitivitas tersebut, karena besaran dalam postur APBN selain dipengaruhi oleh asumsi dasar ekonomi makro, juga menampung berbagai kebijakan pemerintah. Dampak perubahan asumsi dasar ekonomi makro terhadap postur APBN tahun 2018 dirangkum dalam tabel di bawah ini.




Setelah kita mengenal asumsi-asumsi ekonomi makro di atas, selanjutnya kita akan bahas tentang inti dari tulisan ini.


Lifting Minyak dan Gas Bumi

Lifting migas merupakan volume produksi minyak dan gas bumi dari lapangan migas nasional yang dijual atau disalurkan. Lifting migas bersama ICP merupakan dasar perhitungan dalam pelaksanaan anggaran pemerintah, terutama untuk perhitungan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sumber daya alam sektor migas, penerimaan perpajakan di sektor migas, serta transfer ke daerah dalam bentuk Dana Bagi Hasil (DBH) untuk daerah penghasil migas.
Pada 2019, Lifting migas diperkirakan mencapai 2 juta barel setara minyak per hari (bsmph) terdiri atas lifting minyak bumi sebesar 750 ribu barel per hari (bph) dan lifting gas bumi sebesar 1,25 juta barel setara minyak per hari (bsmph). Perkiraan lifting migas pada tahun 2019 dimaksud didasarkan pada kapasitas produksi, rencana produksi Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) dan tambahan proyek yang mulai on stream di tahun 2019, serta tingkat penurunan lapangan migas (decline rate). Tingkat penyerapan dan pemanfaatan domestic juga menjadi faktor yang mempengaruhi terutama pada lifting gas bumi.
Guna mencapai angka lifting migas dimaksud, pemerintah akan terus melakukan koordinasi dengan KKKS, selaku operator di lapangan, untuk secara optimal menjalankan program kerja utama baik pengeboran, perawatan sumur, maupun kerja ulang. Pemantauan atas pelaksanaan proyek produksi tambahan juga dilakukan agar proyek yang telah direncanakan dapat on stream tepat waktu. Di samping itu, faktor harga minyak dunia yang relatif lebih baik juga diharapkan dapat mendorong optimalisasi penerapan teknologi produksi seperti enhanced oil recovery (EOR) untuk dapat menahan tingkat penurunan produksi alamiah lapangan-lapangan migas yang sudah tua. Dari sisi gas bumi, lifting gas bumi diperkirakan mampu kembali meningkat sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pemanfaatan gas untuk kebutuhan energi domestik, baik untuk kebutuhan industri, transportasi maupun rumah tangga.
Kegiatan usaha di sektor hulu migas tidak terlepas dari aktivitas investasi untuk menjaga keberlanjutan produksinya. Saat ini, kegiatan usaha di sektor hulu migas ditopang oleh 148 wilayah kerja migas di seluruh Indonesia baik wilayah kerja produksi, eksplorasi, maupun migas non-konvensional. Keberlanjutan investasi industri hulu migas di wilayah kerja eksploitasi menjadi prioritas untuk menjaga profil produksi dan kontribusi positif terhadap peningkatan kapasitas nasional. Lebih lanjut, investasi pada wilayah kerja eksplorasi juga mutlak diperlukan guna menjamin kesinambungan peran penting hulu migas dalam memberi nilai tambah bagi perekonomian dan ketahanan energi nasional. Upaya mendorong kegiatan eksplorasi menghadapi tantangan dari prospek cadangan migas yangsaat ini lebih banyak berada di laut dalam kawasan timur Indonesia, sehingga secara teknis cadangan migas lebih sulit ditemukan serta membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
Penyederhanaan proses perizinan yang menjadi kunci dalam mendorong peningkatan investasi khususnya di sektor hulu migas, sehingga dapat mendorong aktivitas eksplorasi berkelanjutan dan memperbesar peluang penemuan sumber-sumber minyak dan gas baru. Oleh sebab itu, diperlukan komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk bersamasama menjaga iklim investasi yang kondusif dan tetap menguntungkan termasuk dengan memberikan insentif fiskal secara selektif.


Harga Minyak Mentah Indonesia

Pergerakan harga minyak mentah dunia jangka menengah diperkirakan akan secara bertahap mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan aktivitas perekonomian dunia. Namun demikian, adanya potensi kenaikan cadangan minyak AS, penggunaan energy alternatif, seperti shale gas dan biofuel, serta produksi minyak negara-negara Non OPEC dapat menjadi faktor penahan peningkatan harga minyak mentah dunia. Namun demikian, faktor-faktor lain yang cukup berpotensi menyebabkan gejolak harga minyak mentah tetap harus diwaspadai, seperti perkembangan geopolitik internasional serta gangguan cuaca yang dapat mengganggu proses produksi. Pergerakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) tentunya akan mengikuti harga minyak dunia. Dengan mempertimbangkan faktorfaktor di atas, dalam jangka menengah 2020-2022, ICP diperkirakan akan bergerak pada kisaran harga US$65-75 per barel.
Lifting Minyak dan Gas Bumi
Secara alamiah, dalam jangka menengah lifting minyak akan mengalami penurunan terutama dikarenakan kapasitas sumur yang semakin menua dan belum optimalnya upaya eksplorasi lapangan minyak yang baru. Lifting minyak bumi dalam jangka menengah diperkirakan berada pada kisaran 589-840 ribu bph. Pemerintah akan berupaya menahan penurunan alamiah (natural declining) dengan upaya teknis antara lain:
1) Mempertahankan program kerja utama hulu minyak (pengeboran, kerja ulang dan perawatan sumur);
2) Mempertahankan kegiatan eksplorasi (studi, survei, dan pengeboran); dan
3) Mendorong komersialisasi teknologi produksi yang tepat guna (misalnya: mengefisienkankegiatan EOR). Dalam kaitannya dengan peningkatan daya tarik investasi,
Pemerintah akan memperkuat skema kontrak bagi hasil Gross Split dan dukungan insentif fiskal serta dukungan lainnya dalam bentuk regulasi.
Solusi untuk Menangani Lifting Minyak yang Semakin Turun
Sementara itu, lifting gas bumi dalam jangka menengah diperkirakan relatif stabil dan berpotensi untuk dapat ditingkatkan PADA kisaran 1,19-1,30 juta bsmph. Untuk mendukung pencapaian lifting gas bumi pada jangka menengah tersebut, Pemerintah telah menyiapkan beberapa proyek strategis yang menjadi andalan peningkatan produksi gas bumi, antara lain:
  1. Lapangan Jangkrik;
  2. Blok Muara Bakau;
  3. Lapangan laut dalam di Selat Makassar yang terdiri atas lima lapangan (Lapangan Bangka, Gehem, Gendalo, Maha, dan Gadang);
  4. Serta Lapangan Jambaran Tiung Biru.
Pemerintah terus berupaya agar lifting gas bumi tersebut dapat tercapai sehingga dapat mengkompensasi turunnya lifting minyak, antara lain melalui upaya optimalisasi, pengembangan lapangan baru, intensifikasi, dan ekstensifikasi kegiatan eksplorasi, serta mendorong investasi di sektor gas.

Asumsi dasar ekonomi makro jangka menengah tahun 2020-2022 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.


Proyeksi Penerimaan Negara Bukan Pajak


Dalam jangka menengah, PNBP diproyeksikan tumbuh rata-rata sebesar 11,6 persen, dengan pendapatan SDA dan PNBP lainnya menjadi penyumbang terbesar. Pemerintah dalam jangka menengah akan terus berupaya untuk mengoptimalkan PNBP sebagai sumber pendanaan pembangunan. Upaya optimalisasi PNBP tersebut terutama melalui perbaikan peraturan perundang-undangan terkait PNBP. Disamping itu, optimalisasi PNBP dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya alam, meningkatkan layanan kepada masyarakat, meningkatkan daya saing nasional, dan menjaga daya beli masyarakat.
Berdasarkan kondisi terkini, PNBP dalam jangka menengah diproyeksikan sebagaimana yang akan dibahas alam jangka menengah, proyeksi pendapatan SDA migas sangat dipengaruhi oleh proyeksi asumsi dasar ekonomi makro seperti ICP, nilai tukar, dan lifting migas. Untuk ICP diproyeksikan masih berada pada level sekitar USD65-USD75 per barel. Sementara itu, lifting minyak bumi diperkirakan masih rendah, sedangkan untuk lifting gas diproyeksikan.
Dampak atas kondisi perekonomian global lainnya yang dapat mempengaruhi APBN dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu:


Kondisi Ekonomi Amerika Serikat

Amerika Serikat sebagai negara dengan output ekonomi terbesar di dunia, pertumbuhan ekonominya diharapkan dapat memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi negara lain terutama bagi Indonesia karena Amerika Serikat, merupakan salah satu negara tujuan ekspor terbesar. Pengaruh terhadap ekonomi dan APBN Indonesia ditransmisikan pada deviasi asumsi dasar ekonomi makro terutama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, lifting minyak dan harga minyak, sementara dalam halperdagangan ditransmisikan pada pajak perdagangan internasional.
Secara global, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tahun 2019 cukup stabilmeskipun mengalami pelemahan menjadi 2,7 persen (yoy) yang disebabkan oleh penurunan belanja konsumen, belanja pemerintah, dan investasi, sementara perdagangan internasional positif. Dari sisi moneter, The Federal Reserve (The Fed) masih cenderung meningkatkan suku bunga acuannya. Pada tahun 2019 diproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunganya sebanyak tiga kali. Penguatan kondisi ekonomi Amerika Serikat tahun 2019 yang ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, tingkat pengangguran yang rendah, peningkatan sektor manufaktur, pertumbuhan upah yang stabil, dan tingkat inflasi yang positif, membuka ruang bagi The Fed untuk meningkatkan suku bunganya di tahun 2019.
Di samping itu, penurunan tarif pajak di Amerika Serikat menjadikan iklim bisnis dan investasi menjadi lebih menarik. Keadaan ini berdampak positif bagi perekonomian Amerika Serikat yang dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi dunia. Namun, faktor di atas berpotensi membalikkan arus modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia, kembali ke Amerika Serikat. Risiko yang muncul adalah tekanan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, pasar modal, penanaman modal asing, dan kenaikan yield surat berharga Indonesia. Di sisi lain, harga minyak mentah tahun 2019 diproyeksikan bertahan di atas USD60/barel yang ditopang oleh kuatnya permintaan dan berlanjutnya pemangkasan produksi minyak oleh negara anggota OPEC. Namun, kecenderungan Amerika Serikat meningkatkan supply minyak terutama melalui peningkatan pemanfaatan teknologi yang juga mendorong peningkatan kegiatan eksplorasi dan produksi minyak mentah,menyebabkan ketidakpastian yang tinggi pada harga minyak mentah dunia.
Dari sisi perdagangan internasional, total ekspor Indonesia ke Amerika Serikat merupakan yang paling tinggi setelah Tiongkok. Pada tahun 2017 Amerika Serikat menyerap 11,2 persen total nilai ekspor Indonesia. Sejak tahun 2018, Amerika Serikat cenderung menerapkan kebijakan proteksionis dan diproyeksikan berlanjut di tahun 2019. Kebijakan tersebut berpotensi menghasilkan perang dagang antarnegara yang masih menjadi perhatian pada tahun 2019. Hal itu berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat rendahnya net export.
Dampaknya terhadap APBN adalah penurunan penerimaan negara yang bersumber dari penerimaanperpajakan yang terkait dengan aktivitas perdagangan internasional dan penerimaan PNBP SDA nonmigas. Risiko selanjutnya adalah besarnya deviasi realisasi harga minyak mentah dengan asumsi dasar ekonomi makro akibat divergensi kebijakan OPEC dan Amerika Serikat. Produksi minyak mentah di Amerika Serikat terus meningkat di saat OPEC mengendalikan harga minyak dunia melalui pengendalian produksi. Sepanjang tahun 2018, Amerika Serikat terus meningkatkan produksi minyaknya hingga mencapai 10,9 juta barel per hari pada bulan Juli 2018 (meningkat dari 9,4 juta barel pada bulan Juli 2017). Tingginya cadangan sumber minyak mentah Amerika Serikat membawa potensi peningkatan produksi minyak pada tahun 2019. Keadaan ini berisiko menurunkan penerimaan